Pohon Jabon Peluang Usaha Investasi Menguntungkan
POHON JABON
(Neolamarckia cadamba, Anthocephalus cadamba, Anthocephalus chinensis)

Pohon Jabon adalah peluang usaha dan investasi menguntungkan, merupakan tanaman bahan baku industri yang sangat berkualitas bahkan jika dibandingkan dengan tanaman/pohon albaziah atau sengon. yang saat ini masih merupakan bahan baku dasar yang umum digunakan pada industri-industri kayu olahan, seperti: plywood, blockboard, particle board, hingga peti kemas.
Dibandingkan dengan jenis-jenis kayu yang lain, kayu jabon merupakan jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat, berbatang silinders dan lurus, kayunya berwarna putih kekuningan tanpa terlihat serat, yang sangat baik dipergunakan untuk pembuatan kayu lapis maupun kayu gergajian.
Jabon Antocephalus Cadamba Merupakan salah satu jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis dengan ekologi tumbuh pada :Ketinggihan 10-2000m dpl, Curah hujan 1250-3000m/th, Perkiraan suhu 100 C 400 C, Kondisi tanah dengan PH 4,5 7,5.
Jabon Anthocephalus cadamba Merupakan satu diantara jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis dengan ketinggian 0 1000 m dpl.
Jabon Anthocephalus cadamba Merupakan satu diantara jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis dengan ketinggian 0 1000 m dpl.

Saat ini Jabon menjadi andalan industri perkayuan, termasuk kayu lapis, karena Jabon memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan tanaman kayu lainnya termasuk sengon/albazia. Dari hasil uji coba yang telah dilakukan, keunggulan tanaman jabon dapat diuraikan dari beberapa sisi, diantaranya adalah:
1. Diameter batang dapat tumbuh berkisar 10 cm/th
2. Masa produksi jabon yang singkat hanya 4 5 tahun
3. Berbatang silinder dengan tingkat kelurusan yang sangat bagus
4. Tidak memerlukan pemangkasan karena pada masa pertumbuhan cabang akan rontok sendiri self pluring.
Bentuk Kayu Jabon
Kayu jabon Anthocephalus cadamba lebih bagus daripada kayu lainnya, tekstur lebih halus, bentuknya silinder lurus, berwarna putih kekuningan dan tidak berserat, batang mudah dikupas, lebih mudah dikeringkan atapun direkatkan dan tidak cacat, Arah serat terpadu, permukaan kayu mengkilap, kayu jabon juga sudah terbukti keawetannya atau daya tahannya.
Kayu jabon Anthocephalus cadamba lebih bagus daripada kayu lainnya, tekstur lebih halus, bentuknya silinder lurus, berwarna putih kekuningan dan tidak berserat, batang mudah dikupas, lebih mudah dikeringkan atapun direkatkan dan tidak cacat, Arah serat terpadu, permukaan kayu mengkilap, kayu jabon juga sudah terbukti keawetannya atau daya tahannya.
Batang Jabon
Ciri dan karakteristik batang jabon adalah : Permukaan kayu licin serta arah tegak lurus, berwarna putih kekuningan mirip meranti kuning, batang mudah dikupas, dikeringkan, direkatkan, bebas dari cacat mata kayu dan susutnya rendah.
Ciri dan karakteristik batang jabon adalah : Permukaan kayu licin serta arah tegak lurus, berwarna putih kekuningan mirip meranti kuning, batang mudah dikupas, dikeringkan, direkatkan, bebas dari cacat mata kayu dan susutnya rendah.
Keunggulan Jabon Antocephalus Cadamba
Jabon memiliki beberapa keunggulan di bandingkan dengan tanaman kayu rimba lainnya. Selain daya tumbuhnya yang sangat cepat, tingkat kelurusannya juga tinggi, berbatang silinder dan cabang yang ada pada masa pertumbuhan akan rontok dengan sendirinya ketika pohon meninggi. Sifat ini menguntungkan karena tidak memerlukan pemangkasan. Kayunya berwarna putih agak kekuningan tanpa terlihat serat sangat baik dipergunakan untuk pembuatan kayu lapis playwood, mebeler, bahan bangunan non kontruksi, maupun kayu gergajian, tanaman Jabon menpunyai usai optimal berkisar 12 tahun tetapi pada usia 6 8 tahun sudah dapat di tebang 30 up.
Penanaman dan Perawatan Jabon
Jabon merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan berkembang tidak memerlukan perlakuan khusus dalam budidayanya, dan tergolong tanaman yang tahan terhadap hama penyakit.
Pertumbuhan Jabon
pertumbuhan Jabon sangat cepat dibandingkan dengan kayu keras lainnya termasuk bila dibandingkan dengan sengon albazia, Jabon tergolong tumbuhan pionir sebagaimana sengon. Ia dapat tumbuh di tanah liat, tanah lempung podsolik cokelat, atau tanah berbatu. Sejauh ini jabon bebas serangan hama dan penyakit, termasuk karat tumor yang kini banyak menyerang sengon.
pertumbuhan Jabon sangat cepat dibandingkan dengan kayu keras lainnya termasuk bila dibandingkan dengan sengon albazia, Jabon tergolong tumbuhan pionir sebagaimana sengon. Ia dapat tumbuh di tanah liat, tanah lempung podsolik cokelat, atau tanah berbatu. Sejauh ini jabon bebas serangan hama dan penyakit, termasuk karat tumor yang kini banyak menyerang sengon.

Nilai Ekonomi Jabon
Budidaya tanaman jabon akan memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan apabila dikerjakan secara serius dan benar, dari hasil perhitungan yang telah dilakukan pada tanaman jabon setelah dipanen pada usia 5-6 tahun dengan asumsi harga terendah dan batang terkecil, pada setiap batang jabon diperoleh Tinggi batang yang bisa terjual rata-rata 12 m Diameter batang rata-rata 40 hingga 50cm maka tiap batang pohon jabonmenghasilkan kayu yang bisa dijual sebanyak 1,5 kubik, sedangkan harga perkubik saat ini Rp 1.000.000,- Jadi harga 1 batang pohon jabon usia 8-10 tahun minimal seharga Rp 1.500.000.
Budidaya tanaman jabon akan memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan apabila dikerjakan secara serius dan benar, dari hasil perhitungan yang telah dilakukan pada tanaman jabon setelah dipanen pada usia 5-6 tahun dengan asumsi harga terendah dan batang terkecil, pada setiap batang jabon diperoleh Tinggi batang yang bisa terjual rata-rata 12 m Diameter batang rata-rata 40 hingga 50cm maka tiap batang pohon jabonmenghasilkan kayu yang bisa dijual sebanyak 1,5 kubik, sedangkan harga perkubik saat ini Rp 1.000.000,- Jadi harga 1 batang pohon jabon usia 8-10 tahun minimal seharga Rp 1.500.000.
Pemasaran Log Jabon
Karena jenisnya yang berwarna putih agak kekuningan tanpa terlihat seratnya, sangat dibutuhkan pada industri kayu lapis playeood.meubelair dan bahan bangunan non kontruksi, sehingga dalam pemasaran kayu jabon sama sekali tidak mengalami kesulitan, bahkan kami telah melakukan kerjasama dengan industri kayu lapis yang siap untuk membeli setiap saat dalam jumlah yang tidak terbatas.
Karena jenisnya yang berwarna putih agak kekuningan tanpa terlihat seratnya, sangat dibutuhkan pada industri kayu lapis playeood.meubelair dan bahan bangunan non kontruksi, sehingga dalam pemasaran kayu jabon sama sekali tidak mengalami kesulitan, bahkan kami telah melakukan kerjasama dengan industri kayu lapis yang siap untuk membeli setiap saat dalam jumlah yang tidak terbatas.
Harga kayu jabon perkubik pada tahun 2009 :
1.middle 30-39 Rp 1.000.000
2.middle 40-49 Rp 1.100.000
3.middle 50 up Rp 1.200.000
Harga ini diprediksi akan mengalami kenaikan seiring dengan tingkat kebutuhan / permintaan yang tinggi, sedangkan penyediaan kayunya semakin terbatas.
Industri Yang Menyerap Kayu Jabon
banyak sekali penyerap kayu jabon diantaranya kayu lapis, industri mebel, pulp, mainan anak-anak, peti buah, alas sepatu, korek api, tripleks, mebel, bahan bangunan non konstruksi, dan banyak lagi yang lainnya. kayu jabon juga mudah dibuat vinir dengan sudut kupas 920 ketebalan 1,5 mm.
Peluang Investasi Jabon
Menanam jabon bagaikan menanam emas, sebab kebutuhan kayu akan terus meninggi, karena saat ini pemerintah melarang penggunaan kayu bulat hasil tebangan hutan alam, akibatnya banyak industri tutup akibat kekurangan pasokan kayu, jadi pada masa mendatang, harga kayu jabon akan semakin meningkat terus.
Ambil Stand Against Illegal Fishing
Mengambil tindakan
Bergabung dengan jutaan aktivis di seluruh dunia dan membantu membuat perbedaan bagi spesies terancam punah, habitat mereka tinggal di, dan masyarakat yang bergantung pada mereka.
Pilihan Aksi
Ambil Stand Against Illegal Fishing
Hiu, tuna dan kura-kura laut hanya beberapa korban praktik penangkapan ikan ilegal. Overfishing, menangkap disengaja dan mislabeling yang menipis stok ikan dan mengancam ekosistem laut. Saat ini, pemerintah AS bekerja pada sebuah rencana untuk memerangi illegal fishing. Masuk Petisi sekarang: Katakan Samudera Dewan Nasional yang Anda inginkan, solusi nyata nyata untuk ketertelusuran makanan laut di pasar AS.
Ambil Tindakan Sekarang ▶
Bergabung dengan jutaan aktivis di seluruh dunia dan membantu membuat perbedaan bagi spesies terancam punah, habitat mereka tinggal di, dan masyarakat yang bergantung pada mereka.
Pilihan Aksi
Ambil Stand Against Illegal Fishing
Hiu, tuna dan kura-kura laut hanya beberapa korban praktik penangkapan ikan ilegal. Overfishing, menangkap disengaja dan mislabeling yang menipis stok ikan dan mengancam ekosistem laut. Saat ini, pemerintah AS bekerja pada sebuah rencana untuk memerangi illegal fishing. Masuk Petisi sekarang: Katakan Samudera Dewan Nasional yang Anda inginkan, solusi nyata nyata untuk ketertelusuran makanan laut di pasar AS.
Ambil Tindakan Sekarang ▶
Hutan Amazon
Amazon adalah wilayah luas yang membentang di delapan negara berkembang pesat: Brazil, Bolivia, Peru, Ekuador, Kolombia, Venezuela, Guyana, Suriname dan Guyana Perancis, sebuah wilayah luar negeri Perancis.
Lanskap berisi:
Lanskap berisi:
Satu dari sepuluh spesies yang dikenal di Bumi
1,4 miliar ekar hutan lebat, setengah dari hutan tropis yang tersisa di planet ini
4.100 mil dari sungai yang berkelok-kelok
2,6 juta mil persegi di cekungan Amazon, sekitar 40 persen dari Amerika Selatan
Ada hubungan yang jelas antara kesehatan Amazon dan kesehatan planet ini. Hutan hujan, yang mengandung 90-140.000.000.000 metrik ton karbon, membantu menstabilkan iklim lokal dan global. Deforestasi dapat melepaskan sejumlah besar karbon ini, yang dapat memiliki konsekuensi bencana di seluruh dunia.
Hutan Kalimantan dan Sumatera
Hutan Kalimantan dan Sumatera adalah yang paling beragam secara biologis habitat di Bumi, memiliki bertumbuhnya angka tinggi tanaman unik dan hewan.
Pulau-pulau di Asia Tenggara Kalimantan dan Sumatera, yang terletak di Khatulistiwa, adalah rumah bagi beberapa hutan hujan yang paling beragam di dunia dan hutan utuh terakhir di Asia Tenggara. Kalimantan merupakan pulau terbesar ketiga di dunia, seluas sedikit lebih besar dari Texas. Sumatera adalah pulau terbesar keenam di dunia. Iklim tropis pulau 'dan beragam ekoregion telah menciptakan habitat yang rumah ribuan spesies unik dan terakhir yang tersisa harimau sumatera di dunia, orangutan, gajah kerdil, dan badak Sumatera. Sungai besar memotong seluruh lanskap. Ini adalah 'bertahan hidup, menawarkan transportasi dan dan menyediakan kebutuhan air tawar untuk pulau-pulau' pulau-pulau orang.
Perubahan Iklim, Tanam Pohon Solusinya
Perubahan iklim merupakan ancaman mendasar ke tempat-tempat, spesies dan komunitas WWF bekerja untuk melindungi. Di seluruh dunia, kita sudah merasakan dampak perubahan iklim; masyarakat kita dan satwa liar Bumi dan ekosistem sedang selamanya berubah.
Peristiwa cuaca ekstrim, pencairan gletser dan naiknya permukaan-ke-laut dengan link ke perubahan iklim yang berdampak masyarakat dan sumber daya alam saat ini. Efek jauh dari perubahan iklim yang jelas: lautan kita menjadi lebih asam, pasokan air menyusut, hasil pertanian yang ditinggalkan, dan hutan kita terbakar.
Meskipun dampak iklim saat ini adalah serius dan harus ditangani, masih ada waktu untuk menghindari konsekuensi yang paling parah dari perubahan iklim. Jika kita bertindak sekarang, kami dapat lebih mempersiapkan diri untuk risiko ini dan menggeser jalan bangsa kita, dan dunia, memilih dan menggunakan energi, yang sejauh driver terbesar dari perubahan iklim.
Selama empat dekade, WWF telah menjadi bagian dari gerakan untuk melawan krisis global ini. Visi kami adalah dunia didukung oleh energi terbarukan, dimana masyarakat dan ekosistem yang tangguh dalam menghadapi perubahan iklim. Kami terlibat jutaan orang Amerika, bisnis terkemuka dan pemimpin pemerintahan untuk mewujudkan masa depan ini. Mempersiapkan masyarakat setempat, membantu ekosistem beradaptasi dengan perubahan yang cepat, dan mengurangi emisi yang mendorong perubahan iklim sangat penting untuk dunia yang lebih aman untuk diri kita sendiri, anak-anak kita dan seluruh kehidupan di Bumi.
Peristiwa cuaca ekstrim, pencairan gletser dan naiknya permukaan-ke-laut dengan link ke perubahan iklim yang berdampak masyarakat dan sumber daya alam saat ini. Efek jauh dari perubahan iklim yang jelas: lautan kita menjadi lebih asam, pasokan air menyusut, hasil pertanian yang ditinggalkan, dan hutan kita terbakar.
Meskipun dampak iklim saat ini adalah serius dan harus ditangani, masih ada waktu untuk menghindari konsekuensi yang paling parah dari perubahan iklim. Jika kita bertindak sekarang, kami dapat lebih mempersiapkan diri untuk risiko ini dan menggeser jalan bangsa kita, dan dunia, memilih dan menggunakan energi, yang sejauh driver terbesar dari perubahan iklim.
Selama empat dekade, WWF telah menjadi bagian dari gerakan untuk melawan krisis global ini. Visi kami adalah dunia didukung oleh energi terbarukan, dimana masyarakat dan ekosistem yang tangguh dalam menghadapi perubahan iklim. Kami terlibat jutaan orang Amerika, bisnis terkemuka dan pemimpin pemerintahan untuk mewujudkan masa depan ini. Mempersiapkan masyarakat setempat, membantu ekosistem beradaptasi dengan perubahan yang cepat, dan mengurangi emisi yang mendorong perubahan iklim sangat penting untuk dunia yang lebih aman untuk diri kita sendiri, anak-anak kita dan seluruh kehidupan di Bumi.
Penjelasan Terjadinya Krisis Pangan Akibat Pemanasan Global
NEW YORK - Badan khusus PBB yang fokus terhadap perubahan iklim, IPCC, mengatakan salah satu dampak dari pemanasan global beberapa dekade mendatang adalah kurangnya pasokan pangan. Bagaimana sebenarnya itu bisa terjadi?
Peneliti bidang Observatorium Bumi dari Columbia University berhasil mengungkapkan kekeringan adalah penyebab dari kurangnya pasokan pangan pada 2050 hingga 2100 mendatang.
Peneliti bidang Observatorium Bumi dari Columbia University berhasil mengungkapkan kekeringan adalah penyebab dari kurangnya pasokan pangan pada 2050 hingga 2100 mendatang.
Kekeringan ini disebabkan oleh meningkatnya suhu Bumi seperti yang sudah dirasakan sekarang ini, dan diprediksi akan meningkat beberapa puluh tahun selanjutnya. Suhu yang bertambah panas berarti meningkatnya penguapan, serta pengeringan tanah yang bisa mengakibatkan risiko signifikan bagi pertanian global.
"Peningkatan penguapan tak hanya mengintensifkan pengeringan di daerah di mana curah hujan sudah berkurang, tapi juga mendorong suatu daerah mengalami kekeringan," tulis penelitian tersebut seperti dilansir Salon.com, Jumat (4/4/2014).
Kekeringan ini berpotensi terjadi pada 30 persen dari seluruh luas daratan Bumi, sedangkan curah hujan hanya akan ada sebanyak 12 persen pada saat itu. Yang tentu saja tak akan cukup untuk 'membasahi' Bumi. Masalah kekeringan ini dikatakan mulai terjadi pada daerah Amerika Serikat bagian tengah dan tenggara China. Dua wilayah ini disebut memiliki masalah dalam penyerapan air tanah.
Salah satu peniliti, Ben Cook, mengumpamakan kekeringan dan curah hujan di masa datang seperti ember airnya diambil lebih banyak ketimbang diisi kembali dengan air hujan. "Ini seperti Anda terus menguras air di ember tersebut lebih banyak ketimbang Anda mengisi airnya kembali," jelasnya. Dan fenomena ini akan berakhir pada kekeringan.
(amr)
"Peningkatan penguapan tak hanya mengintensifkan pengeringan di daerah di mana curah hujan sudah berkurang, tapi juga mendorong suatu daerah mengalami kekeringan," tulis penelitian tersebut seperti dilansir Salon.com, Jumat (4/4/2014).
Kekeringan ini berpotensi terjadi pada 30 persen dari seluruh luas daratan Bumi, sedangkan curah hujan hanya akan ada sebanyak 12 persen pada saat itu. Yang tentu saja tak akan cukup untuk 'membasahi' Bumi. Masalah kekeringan ini dikatakan mulai terjadi pada daerah Amerika Serikat bagian tengah dan tenggara China. Dua wilayah ini disebut memiliki masalah dalam penyerapan air tanah.
Salah satu peniliti, Ben Cook, mengumpamakan kekeringan dan curah hujan di masa datang seperti ember airnya diambil lebih banyak ketimbang diisi kembali dengan air hujan. "Ini seperti Anda terus menguras air di ember tersebut lebih banyak ketimbang Anda mengisi airnya kembali," jelasnya. Dan fenomena ini akan berakhir pada kekeringan.
(amr)
Polusi di Asia Sebabkan Cuaca Ekstrem di Amerika
NEW YORK - Tim peneliti mengungkap bahwa polusi udara yang berlebihan di China serta negara Asia lainnya menyebabkan perubahan cuaca ekstrem di Amerika Utara. Dampak cuaca ekstrem tersebut adalah mengganasnya badai dan suhu ekstrem di musim dingin.
Kepala tim peneliti, Yuan Wang dari California Institute of Technology, mengatakan polusi tersebut menyebabkan pertambahan ketebalan serta ketinggian awan dan membuat prespirasi menjadi lebih berat. Awan-awan yang lebih tebal dan tinggi tersebut berkumpul di atas Samudera Pasifik dan melayang ke wilayah Amerika Utara.
"Cuma ada sedikit keraguan bahwa partikel polusi dari Asia menyebabkan badai yang menyapu sepanjang Pasifik dan menyebabkan perubahan pola cuaca di Amerika dan belahan dunia lainnya," kata Wang seperti dikutip DailyMail, Jumat (18/4/2014). "Efeknya cukup dramatis," tambahnya kemudian.
Berdasarkan hasil penelitian, badai salju di barat laut Pasifik jadi 10 persen lebih besar ketimbang 30 tahun lalu. Para peneliti menggunakan data yang dilaporkan oleh badan PBB yang berfokus pada perubahan iklim alias IPCC tahun 2000 dan membandingkannya dengan data tahun 1850. Berdasarkan perbandingan data ini, tim peneliti menganalisa bahwa partikel polusi memengaruhi formasi awan yang berkaitan dengan jalur badai.
"Aerosol yang terbentuk oleh aktivitas manusia dari aktivitas ekonomi negara berkembang di Asia berdampak pembentukan badai dan sirkulasi udara global di hilir. Dan itu cenderung membuat badai lebih dalam, lebih kuat, dan lebih intens. Badai ini juga memiliki curah hujan lebih di dalamnya," pungkas Wang.
(amr)
Kepala tim peneliti, Yuan Wang dari California Institute of Technology, mengatakan polusi tersebut menyebabkan pertambahan ketebalan serta ketinggian awan dan membuat prespirasi menjadi lebih berat. Awan-awan yang lebih tebal dan tinggi tersebut berkumpul di atas Samudera Pasifik dan melayang ke wilayah Amerika Utara.
"Cuma ada sedikit keraguan bahwa partikel polusi dari Asia menyebabkan badai yang menyapu sepanjang Pasifik dan menyebabkan perubahan pola cuaca di Amerika dan belahan dunia lainnya," kata Wang seperti dikutip DailyMail, Jumat (18/4/2014). "Efeknya cukup dramatis," tambahnya kemudian.
Berdasarkan hasil penelitian, badai salju di barat laut Pasifik jadi 10 persen lebih besar ketimbang 30 tahun lalu. Para peneliti menggunakan data yang dilaporkan oleh badan PBB yang berfokus pada perubahan iklim alias IPCC tahun 2000 dan membandingkannya dengan data tahun 1850. Berdasarkan perbandingan data ini, tim peneliti menganalisa bahwa partikel polusi memengaruhi formasi awan yang berkaitan dengan jalur badai.
"Aerosol yang terbentuk oleh aktivitas manusia dari aktivitas ekonomi negara berkembang di Asia berdampak pembentukan badai dan sirkulasi udara global di hilir. Dan itu cenderung membuat badai lebih dalam, lebih kuat, dan lebih intens. Badai ini juga memiliki curah hujan lebih di dalamnya," pungkas Wang.
(amr)
Pemanasan Global Sudah Hancurkan Terumbu Karang Australia
Terumbu karang yang rusak. (foto: Reuters)
SYDNEY - Efek pemanasan global sekarang ini telah berdampak pada sebagian belahan dunia. Di Australia, banyak terumbu karang yang mati karena peningkatan keasaman air laut.
Salah satu perwakilan yang memimpin rapat Panel Antar Negara terhadap Perubahan Iklim atau IPCC, Chris Field, mengatakan bukti nyata dampak dari pemanasan global sudah terjadi pada kerusakan terumbu karang. Khususnya di kawasan terumbu karang terbesar di dunia, Great Barrier Reef Australia.
Mengutip laporan ABC, Rabu (2/4/2014), Field menjabarkan tentang bukti nyata bahayanya efek pemanasan global. "IPCC tidak mencoba untuk menakut-nakuti atau membuat opini publik (tentang pemanasan global), tapi IPCC mencoba menjabarkan gambaran yang tidak bias tentang apa yang kita ketahui dan tidak kita ketahui tentang dampak, adaptasi, dan kerentanan terhadap perubahan iklim," kata Field.
Field mengambil contoh dari rusaknya terumbu karang di perairan hangat Australia belakangan ini. Field menjelaskan, kerusakan terumbu karang tersebut disebabkan oleh kombinasi dari iklim yang memanas dan pengasaman air laut.
"Pengasaman air laut terjadi karena konsekuensi yang tak dapat dihindari dari meningkatnya konsentrasi karbon dioksida pada lapisan atmosfer. Dan ini adalah bukti nyata, menyimpulkan laporan tersebut, tentang bagaimana kombinasi dari tingginya suhu dan meningkatnya keasaman laut membuat dampak yang lebih serius dari sekarang," papar Field.
Sebagaimana diketahui, IPCC baru saja merilis laporan mengenai dampak-dampak berupa bencana besar yang akan terjadi di Bumi 50 hingga 100 tahun dari sekarang. Data tersebut didapat dari hasil 436 penelitian yang melibatkan 1.729 para ahli serta pemerintahan seluruh dunia.
Di akhir kesimpulannya, Field mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk terhindar dari bencana tersebut adalah dengan mengurangi emisi gas rumah kaca.
Namun sayangnya, kata Field, ancaman dari perubahan iklim ini bisa menjadi lebih besar dari sekarang. Terus menerusnya peningkatan emisi gas rumah kaca yang terjadi di Bumi lebih besar ketimbang usaha kelompok atau komunitas untuk mengurangi emisi CO2 di Bumi.
(amr)
Salah satu perwakilan yang memimpin rapat Panel Antar Negara terhadap Perubahan Iklim atau IPCC, Chris Field, mengatakan bukti nyata dampak dari pemanasan global sudah terjadi pada kerusakan terumbu karang. Khususnya di kawasan terumbu karang terbesar di dunia, Great Barrier Reef Australia.
Mengutip laporan ABC, Rabu (2/4/2014), Field menjabarkan tentang bukti nyata bahayanya efek pemanasan global. "IPCC tidak mencoba untuk menakut-nakuti atau membuat opini publik (tentang pemanasan global), tapi IPCC mencoba menjabarkan gambaran yang tidak bias tentang apa yang kita ketahui dan tidak kita ketahui tentang dampak, adaptasi, dan kerentanan terhadap perubahan iklim," kata Field.
Field mengambil contoh dari rusaknya terumbu karang di perairan hangat Australia belakangan ini. Field menjelaskan, kerusakan terumbu karang tersebut disebabkan oleh kombinasi dari iklim yang memanas dan pengasaman air laut.
"Pengasaman air laut terjadi karena konsekuensi yang tak dapat dihindari dari meningkatnya konsentrasi karbon dioksida pada lapisan atmosfer. Dan ini adalah bukti nyata, menyimpulkan laporan tersebut, tentang bagaimana kombinasi dari tingginya suhu dan meningkatnya keasaman laut membuat dampak yang lebih serius dari sekarang," papar Field.
Sebagaimana diketahui, IPCC baru saja merilis laporan mengenai dampak-dampak berupa bencana besar yang akan terjadi di Bumi 50 hingga 100 tahun dari sekarang. Data tersebut didapat dari hasil 436 penelitian yang melibatkan 1.729 para ahli serta pemerintahan seluruh dunia.
Di akhir kesimpulannya, Field mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk terhindar dari bencana tersebut adalah dengan mengurangi emisi gas rumah kaca.
Namun sayangnya, kata Field, ancaman dari perubahan iklim ini bisa menjadi lebih besar dari sekarang. Terus menerusnya peningkatan emisi gas rumah kaca yang terjadi di Bumi lebih besar ketimbang usaha kelompok atau komunitas untuk mengurangi emisi CO2 di Bumi.
(amr)
Ancaman, Pengaruh Perubahan Iklim
Permukaan air laut meningkat dan lautan menjadi hangat. Lagi, kekeringan lebih intens mengancam tanaman, satwa liar dan air tawar pasokan. Dari beruang kutub di Arktik untuk kura-kura laut di lepas pantai Afrika, keragaman planet kita hidup beresiko dari perubahan iklim.
Perubahan iklim merupakan ancaman mendasar ke tempat-tempat, spesies dan mata pencaharian masyarakat WWF bekerja untuk melindungi. Untuk memadai mengatasi krisis ini kita harus segera mengurangi polusi karbon dan mempersiapkan konsekuensi dari pemanasan global, yang kita sudah mengalami. WWF bekerja untuk:
◈ maju kebijakan untuk memerangi perubahan iklim
◈ terlibat dengan bisnis untuk mengurangi emisi karbon
◈ membantu orang dan alam beradaptasi dengan perubahan iklim
Perubahan iklim merupakan ancaman mendasar ke tempat-tempat, spesies dan mata pencaharian masyarakat WWF bekerja untuk melindungi. Untuk memadai mengatasi krisis ini kita harus segera mengurangi polusi karbon dan mempersiapkan konsekuensi dari pemanasan global, yang kita sudah mengalami. WWF bekerja untuk:
◈ maju kebijakan untuk memerangi perubahan iklim
◈ terlibat dengan bisnis untuk mengurangi emisi karbon
◈ membantu orang dan alam beradaptasi dengan perubahan iklim
CO2 Meningkat, Terumbu Karang Indonesia Terancam Rusak
JAKARTA - Efek pemanasan global akibat meningkatnya kadar CO2 bisa berdampak pada rusaknya terumbu karang di berbagai wilayah perairan Indonesia. Ini dikarenakan meningkatnya keasaman air laut akibat pemanasan global.
Seperti diwartakan sebelumnya, efek pemanasan global sudah membuat terumbu karang di wilayah Australia, Great Barrier Reef, rusak karena peningkatan keasaman air laut.
Dikatakan oleh Didi Satiadi, Kepala Bidang Pemodelan Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), hal tersebut juga bisa berdampak pada terumbu karang di taman bawah laut Indonesia.
"Iya, keasaman air laut itu hampir terjadi di seluruh dunia. Terumbu karang di Indonesia juga bisa rusak karena meningkatnya suhu bumi," kata Didi kepada Okezone, Rabu (2/4/2014).
Lebih lagi, lanjut Didi, Indonesia berpotensi mengalami peningkatan gas CO2 karena kebakaran hutan di Riau yang terjadi belakangan ini.
Berdasarkan data dari alat pengukur CO2 buatan Lapan, Pulau Jawa adalah wilayah penghasil gas CO2 terbesar di Indonesia dengan kota-kota besar yang memiliki banyak kawasan industri dan transportasi. Sedangkan pulau lainnya seperti Sumatera dan Kalimantan menghasilkan gas CO2 dari kebakaran hutan.
(amr)
Seperti diwartakan sebelumnya, efek pemanasan global sudah membuat terumbu karang di wilayah Australia, Great Barrier Reef, rusak karena peningkatan keasaman air laut.
Dikatakan oleh Didi Satiadi, Kepala Bidang Pemodelan Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), hal tersebut juga bisa berdampak pada terumbu karang di taman bawah laut Indonesia.
"Iya, keasaman air laut itu hampir terjadi di seluruh dunia. Terumbu karang di Indonesia juga bisa rusak karena meningkatnya suhu bumi," kata Didi kepada Okezone, Rabu (2/4/2014).
Lebih lagi, lanjut Didi, Indonesia berpotensi mengalami peningkatan gas CO2 karena kebakaran hutan di Riau yang terjadi belakangan ini.
Berdasarkan data dari alat pengukur CO2 buatan Lapan, Pulau Jawa adalah wilayah penghasil gas CO2 terbesar di Indonesia dengan kota-kota besar yang memiliki banyak kawasan industri dan transportasi. Sedangkan pulau lainnya seperti Sumatera dan Kalimantan menghasilkan gas CO2 dari kebakaran hutan.
(amr)
Let's Go Green Save The Earth
Dengan Mengkampanyekan Menanam Pohon Menjadi Green Warrior, Anda berpeluang mendapatkan penghasilan Harian, Mingguan dan Bulanan, untuk masa depan terbaik anda Mulia dan Sejahtera.
Menanam pohon sama dengan memberikan kehidupan untuk makhluk hidup.
Menanam pohon sama dengan memberikan kehidupan untuk makhluk hidup.
Isu Pemanasan Global Akibat Minimnya Kesadaran Masyarakat
JAKARTA - Kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya isu pemanasan global dinilai masih kurang. Warga tampak masih kurang peduli dengan penggunaan energi yang harus dihemat.
Hal tersebut bisa dilihat dari kampanye Earth Hour 2014 di Jakarta, yang mengajak warga untuk memadamkan lampu selama satu jam untuk menghemat energi. Pada malam Earth Hour 29 Maret 2014 lalu, Jakarta tampak masih terang benderang.
Kepala Bidang Pemodelan Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Didi Satiadi, pun tak menutup mata akan hal ini. "Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang masih mengonsumsi banyak energi," kata Didi saat dihubungi via telefon oleh Okezone, Rabu (2/4/2014).
Menurut Didi, pengetahuan masyarakat terhadap isu pemanasan global juga mempengaruhi perilaku gaya hidup hemat energi yang sekarang ini belum sepenuhnya diadaptasi. Untuk itu, perlu adanya peran dari LSM, organisasi-organisasi lingkungan hidup, dan peran serta pemerintah untuk melakukan sosialisasi mengenai pentingnya penghematan energi.
Saat ini di Indonesia sendiri sudah dibentuk Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) yang mengawasi dan memberikan edukasi serta sosialisasi tentang pentingnya isu pemanasan global serta penerapan gaya hidup hemat energi.
(amr)
Hal tersebut bisa dilihat dari kampanye Earth Hour 2014 di Jakarta, yang mengajak warga untuk memadamkan lampu selama satu jam untuk menghemat energi. Pada malam Earth Hour 29 Maret 2014 lalu, Jakarta tampak masih terang benderang.
Kepala Bidang Pemodelan Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Didi Satiadi, pun tak menutup mata akan hal ini. "Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang masih mengonsumsi banyak energi," kata Didi saat dihubungi via telefon oleh Okezone, Rabu (2/4/2014).
Menurut Didi, pengetahuan masyarakat terhadap isu pemanasan global juga mempengaruhi perilaku gaya hidup hemat energi yang sekarang ini belum sepenuhnya diadaptasi. Untuk itu, perlu adanya peran dari LSM, organisasi-organisasi lingkungan hidup, dan peran serta pemerintah untuk melakukan sosialisasi mengenai pentingnya penghematan energi.
Saat ini di Indonesia sendiri sudah dibentuk Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) yang mengawasi dan memberikan edukasi serta sosialisasi tentang pentingnya isu pemanasan global serta penerapan gaya hidup hemat energi.
(amr)
Cuaca Buruk Ini Lebih Bahaya dari Hujan Es
JAKARTA - Cuaca ekstrem yang terjadi akibat perubahan iklim karena peningkatan suhu Bumi tak sedikit menimbulkan berbagai bencana alam. Namun bukan hujan es yang membahayakan manusia, melainkan hujan yang disertai angin kencang dan sambaran petir.
Salah satu peneliti Meteorologi Tropis di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Trihandoko Seto, mengatakan hujan es tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena tak begitu membawa ancaman bagi manusia. Selama butiran hujan es itu tak lebih besar dari kelereng atau batu kerikil.
"Ancaman yang lebih berbahaya itu petir, sudah banyak kejadian orang yang meninggal tersambar petir," ujar Trihandoko kepada Okezone. Menurut Trihandoko, dampak perubahan iklim yang mengakibatkan cuaca ekstrem di Indonesia sebagai negara tropis adalah hujan badai.
Selain petir, lanjut Trihandoko, ancaman berbahaya lainnya dari hujan lebat adalah angin kencang. "Yang kedua itu angin kencang atau puting beliung," kata Trihandoko. Sebagai negara tropis, Indonesia mengalami dampak perubahan iklim lebih kepada curah hujan. Sedangkan negara-negara Eropa hingga Amerika cenderung terjadi pada suhu ekstrem.
(amr)
Salah satu peneliti Meteorologi Tropis di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Trihandoko Seto, mengatakan hujan es tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena tak begitu membawa ancaman bagi manusia. Selama butiran hujan es itu tak lebih besar dari kelereng atau batu kerikil.
"Ancaman yang lebih berbahaya itu petir, sudah banyak kejadian orang yang meninggal tersambar petir," ujar Trihandoko kepada Okezone. Menurut Trihandoko, dampak perubahan iklim yang mengakibatkan cuaca ekstrem di Indonesia sebagai negara tropis adalah hujan badai.
Selain petir, lanjut Trihandoko, ancaman berbahaya lainnya dari hujan lebat adalah angin kencang. "Yang kedua itu angin kencang atau puting beliung," kata Trihandoko. Sebagai negara tropis, Indonesia mengalami dampak perubahan iklim lebih kepada curah hujan. Sedangkan negara-negara Eropa hingga Amerika cenderung terjadi pada suhu ekstrem.
(amr)
Tentang Perubahan Iklim (Climate Change)

“Eleuh-eleuh, karawang meuni panas pisan euy..”, komentar seorang teman dari Bandung yang baru saja tiba di Karawang. Komentar yang lain misalnya, “Karawang sekarang mah panasnya nggak alami lagi, udah sampe nusuk ke kulit.., mungkin karena semakin banyak polusi kali ya..” . Komentar-komentar tadi memang bukan hal yang dibuat-buat, akan tetapi inilah kondisi yang terjadi pada bumi kita yang memang semakin panas, kita mengenalnya sebagai Pemanasan Global (Global Warming).
Informasi selengkapnya
Karawang memang termasuk daerah yang memiliki temperatur udara rata-rata cukup tinggi dengan rerata temperatur tahunan 28,87oC (baca: panas), karena memang relatif merupakan daerah dataran rendah yang mempunyai variasi kemiringan wilayah 0-2 %, 2-15%, 15-40% dan diatas 40%, rerata tekanan udara 0,01 milibar dan curah hujan tahunan berkisar antara 1100-3200 mm/tahun. Namun, dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya sektor-sektor industri, transportasi serta alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman yang terus meningkat, maka kenaikan temperatur udara akan terasa makin signifikan.
Apa sebenarnya pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change)? apa juga yang menjadi penyebabnya dan dampak yang ditimbulkannya?, serta dapatkah kita mencegah dan mengantisipasinya? Jika ya, bagaimana caranya? Sebuah buku “Bumi Makin Panas: Ancaman Perubahan Iklim di Indonesia”, yang ditulis Armely Meiviana, Diah R Sulistiowati dan Moekti H Soejachmoen, hasil kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup RI, Yayasan Pelangi Indonesia dan Japan International CooperationAgency (JICA), mudah-mudahan dapat memberikan jawaban yang lengkap serta menyadarkan kita semua untuk bersama-sama melakukan aksi nyata mencegah dan mengantisipasi dampak perubahan iklim, khususnya di Kabupaten Karawang. Wallahu a’lam.
Bisa diunduh di:
http://www.scribd.com/doc/6594400/Bumi-Makin-Panas
Informasi selengkapnya
Karawang memang termasuk daerah yang memiliki temperatur udara rata-rata cukup tinggi dengan rerata temperatur tahunan 28,87oC (baca: panas), karena memang relatif merupakan daerah dataran rendah yang mempunyai variasi kemiringan wilayah 0-2 %, 2-15%, 15-40% dan diatas 40%, rerata tekanan udara 0,01 milibar dan curah hujan tahunan berkisar antara 1100-3200 mm/tahun. Namun, dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya sektor-sektor industri, transportasi serta alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman yang terus meningkat, maka kenaikan temperatur udara akan terasa makin signifikan.
Apa sebenarnya pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change)? apa juga yang menjadi penyebabnya dan dampak yang ditimbulkannya?, serta dapatkah kita mencegah dan mengantisipasinya? Jika ya, bagaimana caranya? Sebuah buku “Bumi Makin Panas: Ancaman Perubahan Iklim di Indonesia”, yang ditulis Armely Meiviana, Diah R Sulistiowati dan Moekti H Soejachmoen, hasil kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup RI, Yayasan Pelangi Indonesia dan Japan International CooperationAgency (JICA), mudah-mudahan dapat memberikan jawaban yang lengkap serta menyadarkan kita semua untuk bersama-sama melakukan aksi nyata mencegah dan mengantisipasi dampak perubahan iklim, khususnya di Kabupaten Karawang. Wallahu a’lam.
Bisa diunduh di:
http://www.scribd.com/doc/6594400/Bumi-Makin-Panas
2015 akan Jadi Tahun Terpanas dalam Sejarah
CALIFORNIA – Tingkat karbon dioksida di Bumi telah mencapai level tertinggi dari yang seharusnya. Para peneliti pun mengeluarkan peringatan jika hal tersebut akan mengakibatkan perubahan iklim yang akan semakin dirasakan oleh manusia, 2015 pun diperkirakan akan menjadi tahun paling panas dalam sejarah.
Sebagaimana dilaporkan Mirror, Rabu (27/5/2015), temperatur dunia sejak Januari hingga April 2015 menjadi yang terpanas dalam sejarah. Hal tersebut diduga disebabkan oleh tingkat perubahan iklim di Bumi yang telah melewati tingkat aman.
Empat bulan pertama selama tahun 2015 merupakan suhu terpanas dunia sejak 136 tahun yang lalu. Peningkatan temperatur itu terjadi di wilayah darat dan laut di dunia dan suhu untuk periode ini mencapai 0,80 derajat Celsius di atas suhu rata-rata abad ke-20 dan melebihi rekor sebelumnya dari 0,07 ° C pada 2010.
Suhu tertinggi di dunia tercatat terjadi di wilayah Ghana, Venezuela dan Palau di Kepulauan Pasifik. Data dari National Oceanic and Atmospheric Administration juga menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir panas di dunia telah melebihi catatan panas dari dua tahun sebelumnya.
Profesor Adam Scaife, peneliti dari lembaga cuaca Inggris, Met Office, menyatakan jika 2015 akan menjadi tahun terpanas karena suhu global akan melampaui rekor panas pada 2014. "Kami memperkirakan bahwa tahun ini dunia akan mencatat rekor baru, sekitar 0,64 ° C di atas normal, dan suhu global yang lebih tinggi sepanjang tahun ini dibandingkan pada tahap ini di 2014,” ujarnya.
Sebelumnya, para ilmuwan sempat memperkirakan jika perubahan iklim menyebabkan melambatnya pemanasan global dalam 15 tahun terakhir. Namun, rekor panas di 2015 ini membuktikan jika dunia ini telah memanas kembali.
(amr)
Sebagaimana dilaporkan Mirror, Rabu (27/5/2015), temperatur dunia sejak Januari hingga April 2015 menjadi yang terpanas dalam sejarah. Hal tersebut diduga disebabkan oleh tingkat perubahan iklim di Bumi yang telah melewati tingkat aman.
Empat bulan pertama selama tahun 2015 merupakan suhu terpanas dunia sejak 136 tahun yang lalu. Peningkatan temperatur itu terjadi di wilayah darat dan laut di dunia dan suhu untuk periode ini mencapai 0,80 derajat Celsius di atas suhu rata-rata abad ke-20 dan melebihi rekor sebelumnya dari 0,07 ° C pada 2010.
Suhu tertinggi di dunia tercatat terjadi di wilayah Ghana, Venezuela dan Palau di Kepulauan Pasifik. Data dari National Oceanic and Atmospheric Administration juga menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir panas di dunia telah melebihi catatan panas dari dua tahun sebelumnya.
Profesor Adam Scaife, peneliti dari lembaga cuaca Inggris, Met Office, menyatakan jika 2015 akan menjadi tahun terpanas karena suhu global akan melampaui rekor panas pada 2014. "Kami memperkirakan bahwa tahun ini dunia akan mencatat rekor baru, sekitar 0,64 ° C di atas normal, dan suhu global yang lebih tinggi sepanjang tahun ini dibandingkan pada tahap ini di 2014,” ujarnya.
Sebelumnya, para ilmuwan sempat memperkirakan jika perubahan iklim menyebabkan melambatnya pemanasan global dalam 15 tahun terakhir. Namun, rekor panas di 2015 ini membuktikan jika dunia ini telah memanas kembali.
(amr)
Fakta Terbaru Tentang Global Warming !
Seiring dengan bertambahnya usia planet bumi kita,semakin banyak pula faktor yang dapat menyababkan rusak bumi kita ini,salah satunya akibat ulah kita sendiri.Manusia sebagai mahluk yang menguasai bumi dengan ke egoisan berlebih,perilaku yang merusak alam yang ada di permukaan bumi ini.Salah satu hal yang nyata akibat ulah manusia adalah Dampak Global Warming yang semakin hari,semakin terasa.
Earth Hour adalah salah satu upaya untuk "menyadarkan kita" mengurangi sedikit dampak global warming dengan cara mematikan seluruh lampu hanya 1 jam,di negara kita indonesia gerakan/kampanye ini sudah dilakukan Pada 29 Maret 2014.Setiap Tahun World Wide Fund(WWF) menggalakan kampanye ini ke seluruh dunia,tapi banyak dari kita yang tidak melakukannya,hanya untuk hal sekecil itu.Lalu apa fakta terbaru yang semakin menghawatirkan tentang global warming ini ?.
Kadar CO2 di atmosfer kita bertambah sekitar 34% dibandingkan abad-17 Setiap detik manusia menghembuskan 1.000 ton metrik Karbon Dioksida ( CO2 ) ke udara terhadap 6.600 ton karbondioksida(CO2) yang dilepaskan ke dalam atmosfer setiap tahunnya. (Tom Hirsch, Air & Health)
Indonesia masuk Guiness World of Record dengan gelar THE FASTERST FOREST DESTROYER( Penghacur Hutan Tercepat di dunia) Setiap detik sekitar 0,4 hektar hutan tropis dunia ditebang.
Amerika Serikat sebagai salah satu penyumbang terbesar gas karbon ke udara sekitar 25% di dunia 80% penggunaan bahan bakar fosil di dunia terjadi di Amerika Serikat
Sebagian wilayah jawa dan pulau-pulau kecil di indonesia diprediksikan akan tenggelam 23 tahun kedepan, sebagai dampak pemanasan global. Permukaan laut diperkirakan naik sekitar 6 meter.
Glasier dan salju di pegunungan mulai mencair.Taman nasional Glasier di Montana sekarang hanya punya 27 glasier padahal tahun 1970 taman ini mempunyai 150 glasier
Temperatur dua dekade terakhir abad 20an adalah yang terhangat dalam 400 tahun dan mungkin paling hangat dalam beberapa ribu tahun ini merupakan penelitian iklim dari UN Intergovernmental Panel on Climate Change Lebih dari 1 juta meter persegi es di kutub utara sudah mencair akibat suhu bumi naik.



Greenland daratan es terbesar di dunia mencair 52 kubik mil per tahun jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Jika seluruh lapisan es di Greenland berjumlah 2,5 juta kubik kilometer mencair akan terjadi kenaikan permukaan laut sebanyak 7,2 meter
Lebih
dari satu juta spesies akan mengalami kepunahan akibat lenyapnya
habitat alami mereka, perubahan ekosistem dan kadar asam di laut
meningkat.

Untuk
itu mulailah kita sadar bahwa bumi kita perlu di perhatikan,mulailah
langkah sekecil apapun itu untuk menyelamatkan bumi kita dan masa depan
anak cucu kita.
Solusi terbaik kita ikut Komunitas Green Warrior....Apa itu Green Warrior ??? Segera cari tahu dan pelajari di blog ini...!!

Semoga bermanfaat.
Bakal Banyak Pulau Tenggelam di Indonesia bila Seluruh Es Kutub Meleleh

Inilah peta dibuat National Geographic yang menunjukkan apa yang akan terjadi pada Indonesia bila seluruh es di kutub meleleh. Garis biru muda menunjukkan garis pantai pada saat ini. Bila es meleleh, Indonesia akan kehilangan banyak daratan. Peta : National Geographic
JAKARTA, BL- Diperkirakan bakal banyak pulau yang hilang atau tenggelam di Indonesia bila
es di Kutub Utara dan Selatan mencakup 10 persen dari permukaan Bumi seluruhnya meleleh.
Jumlah es di Kutub Utara dan Selatan diperkirakan mencapai 5 miliar kubik. National Geographic membuat sebuah peta interaktif. Peta memperlihatkan bahwa ketika seluruh es meleleh, permukaan laut akan semakin tinggi, banyak daratan hilang, pegunungan jadi pulau, dan manusia bakal merugi.
Di peta wilayah Asia, bisa dilihat dampak melelehnya es kutub pada Indonesia. Terlihat, garis pantai lebih menjorok ke dalam. Artinya, daratan Indonesia akan berkurang secara signifikan dan berubah menjadi lautan.
Dapat dilihat pula, wilayah laut Indonesia menjadi lebih "bersih". Artinya, banyak pulau-pulau di Indonesia yang akan hilang tenggelam. Wilayah Kalimantan sendiri akan kehilangan banyak daratan, membuat Indonesia kehilangan banyak wilayah hutan.
Dampak yang bisa dibayangkan, banyak spesies eksotik di Indonesia, seperti harimau sumatera, orangutan sumatera dan Kalimantan, serta banyak lagi, akan terganggu. Banyak masyarakat adat yang bergantung pada hutan akan semakin sulit untuk hidup.
Belahan dunia lainnya
Peta juga memperkirakan apa yang akan terjadi pada wilayah Asia lain. Delta Sungai Mekong akan tergenang. Dampaknya, wilayah China, India, dan Banglades akan banjir. Sebanyak 760 juta populasi, berdasarkan hitungan saat ini, akan dirugikan.
National Geographic Peta menunjukkan apa yang akan terjadi pada Eropa bila semua es kutub meleleh. London bakal tinggal kenangan.
Di wilayah Eropa, diperlihatkan bahwa dengan melelehnya seluruh es, London hanya akan menjadi kenangan. Begitu juga dengan Venesia, Belanda, dan Denmark. Di Amerika Utara, dampaknya ialah wilayah San Francisco yang akan menjadi kluster pulau.
Ilmuwan memperkirakan, mungkin butuh waktu lebih dari 5.000 tahun bagi semua es untuk meleleh. Namun, bila manusia terus memakai bahan bakar fosil dan beraktivitas seperti biasa hingga menambahkan triliunan ton karbon ke atmosfer, Bumi akan makin panas dan es meleleh cepat.
Bumi terakhir mengalami masa yang sangat panas dan bebas es pada 34 juta tahun lalu, zaman Eocene. Jika gas rumah kaca di atmosfer terus bertambah, bukan tidak mungkin masa itu terulang kembali.
Untuk wilayah Antartika Barat saja, sejak tahun 1992, es sudah meleleh. Laporan National Geographic menyatakan bahwa jumlah es yang meleleh sekitar 65 juta metrik ton. Es di Greenland juga dilaporkan meleleh signifikan. (NG/Kompas.com)
Es di Kutub Meleleh, Indonesia Jadi Bersih

Banyak pulau yang akan hilang tenggelam. Daratan Indonesia akan berkurang secara signifikan.
Es di kutub utara dan selatan mencakup 10 persen dari permukaan Bumi. Jumlah es diperkirakan mencapai 5 miliar kubik. Apa yang terjadi pada dunia, khususnya Indonesia, bila seluruh es tersebut meleleh?
National Geographic membuat sebuah peta interaktif. Peta memperlihatkan bahwa ketika seluruh es meleleh, permukaan laut akan semakin tinggi, banyak daratan hilang, pegunungan jadi pulau, dan manusia bakal merugi.
Di peta wilayah Asia, bisa dilihat dampak melelehnya es kutub pada Indonesia. Terlihat, garis pantai lebih menjorok ke dalam. Artinya, daratan Indonesia akan berkurang secara signifikan dan berubah menjadi lautan.
Dapat dilihat pula, wilayah laut Indonesia menjadi lebih "bersih". Artinya, banyak pulau-pulau di Indonesia yang akan hilang tenggelam. Wilayah Kalimantan sendiri akan kehilangan banyak daratan, membuat Indonesia kehilangan banyak wilayah hutan.
Dampak yang bisa dibayangkan, banyak spesies eksotik di Indonesia, seperti harimau sumatera, orangutan sumatera dan Kalimantan, serta banyak lagi, akan terganggu. Banyak masyarakat adat yang bergantung pada hutan akan semakin sulit untuk hidup.
Peta juga memperkirakan apa yang akan terjadi pada wilayah Asia lain. Delta Sungai Mekong akan tergenang. Dampaknya, wilayah China, India, dan Banglades akan banjir. Sebanyak 760 juta populasi, berdasarkan hitungan saat ini, akan dirugikan.
Di wilayah Eropa, diperlihatkan bahwa dengan melelehnya seluruh es, London hanya akan menjadi kenangan. Begitu juga dengan Venesia, Belanda, dan Denmark. Di Amerika Utara, dampaknya ialah wilayah San Francisco yang akan menjadi kluster pulau.
Ilmuwan memperkirakan, mungkin butuh waktu lebih dari 5.000 tahun bagi semua es untuk meleleh. Namun, bila manusia terus memakai bahan bakar fosil dan beraktivitas seperti biasa hingga menambahkan triliunan ton karbon ke atmosfer, Bumi akan makin panas dan es meleleh cepat.
Bumi terakhir mengalami masa yang sangat panas dan bebas es pada 34 juta tahun lalu, zaman Eocene. Jika gas rumah kaca di atmosfer terus bertambah, bukan tidak mungkin masa itu terulang kembali.
Untuk wilayah Antartika Barat saja, sejak tahun 1992, es sudah meleleh. Laporan National Geographic menyatakan bahwa jumlah es yang meleleh sekitar 65 juta metrik ton. Es di Greenland juga dilaporkan meleleh signifikan.
Sumber : Kompas.com
Fakta Perubahan Iklim di Depan Mata

Tak pernah menyangka akan melihat perubahan begitu besar dalam masa begitu singkat.
Kita tahu iklim sedang berubah, tetapi mencerna fakta itu sangat tidaklah mudah.
Extreme Ice Survey (www.extremeicesurvey.org) menyajikan perubahan ini secara gamblang: melalui hampir sejuta foto selang-waktu, kini ada bukti memilukan yang tak terbantahkan. Bahwa gletser purba telah menghilang. Gletser yang harusnya meluas atau menyusut perlahan-lahan, kini berlangsung sirna di depan mata.
Saya memulai proyek ini pada 2007, dan mengira akan berlangsung dua tahun lamanya. Untuk menyaksikan perubahan iklim, kami memasang 25 kamera bertenaga surya di tepi gletser di Greenland, Islandia, Alaska, Pegunungan Alpen, dan Pegunungan Rocky.
Saya tidak pernah menyangka akan melihat perubahan begitu besar dalam masa begitu singkat.
Foto-foto itu menunjukkan gletser terpecah dan meleleh lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Jadi survei ini dilanjutkan—tanpa batas waktu. Sebab harus ada yang menjadi saksi atas perubahan monumental ini.
Baca lanjutan kisahnya di tautan ini: ngi.cc/f65
(James Balog)
Pemanasan Global : Bongkahan Es Mencair, Laut Meluap, Akibatnya Bumi Tenggelam

Kandungan air bumi sangat berlimpah, volume seluruhnya mencapai ~1.4 milyar km3. Lebih dari 97 persen merupakan air laut, 2 persen berupa gunung-gunung es di kedua kutub bumi dan sekitar 0,75 persen air tawar yang mendukung kehidupan makhluk hidup di darat. Dari luas permukaan bumi 510 juta km2, 70.8 persen (361.13 juta km2) planet kita ditutupi oleh air sehingga tidak mengherankan warnanya biru dibanding planet-planet lain dan sebenarnya beralasan penamaan ‘bumi’ (‘earth’ dengan bahasa Latin humus/terra berarti tanah/daratan) adalah suatu kekeliruan. Lautan memang tidak tersebar merata di permukaan bumi, menutupi 80 persen belahan selatan dan 61 persen di belahan utara di mana terdapat sebagian besar daratan dunia. Paparan benua, hanya mencakup 7-8 persen seluruh luas lautan dengan kemiringan landai sampai kedalaman 200 meter, kemudian menurun tajam hingga 3-5 km (kedalaman rata-rata lautan 4 km). Dataran abisal ini seragam kedalamannya menutupi daerah dasar lautan yang rata dan sangat luas.
Jika diamati perbandingan ‘massa’ daratan dan lautan dengan mengandaikan seluruh daratan diratakan maka yang tersisa hanyalah massa air dengan kedalaman lebih dari 3 km. Kebanyakan pegunungan tertinggi bumi berkisar antara 5 – 8 km seperti pegunungan Himalaya dengan elevasi tertinggi di Everest (8.850 m). Sedangkan kedalaman palung-palung laut berkisar 7 sampai 11 km dengan palung terdalam Mariana di Pasifik 11.033 meter (panjang 1.554 mil, lebar 44 mil). Sekalipun ditenggelamkan gunung Everest ke laut terdalam dunia ini masih tersisa massa air diatasnya dengan kedalaman lebih dari 2 km (2,183 m).
Di belahan dunia bagian utara, musim dingin saat ini turut merenggut korban jiwa seperti di Jepang dan Rusia. Untuk menyisihkan salju yang luar biasa tebal, Jepang mengoperasikan mesin keruk spesial. Di India ratusan orang meninggal akibat kedinginan. Sementara di Australia mencatat tahun 2005 sebagai tahun yang paling panas. Kepanikan juga melanda warga Rusia gara-gara salju turun tapi bukan salju putih seperti biasa, melainkan salju merah. Badai pasir yang terangkut dari Mongolia menimbulkan fenomena ini. Selain turut memperluas gurun di dunia, salju merah yang mengguyur Rusia hanya beberapa pekan setelah salju kuning menyelimuti wilayah Pulau Sakhalin di Rusia timur jauh akibat oleh polusi dari pabrik minyak dan gas.
Peningkatan Suhu. Badan dunia PBB lewat Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 1990) menyimpulkan bahwa sejak akhir 1980-an pemanasan global terlihat nyata dan meningkat tajam 0.3 – 0.6 derajat Celcius. Tahun 1987 dan 1988 tercatat sebagai dimulainya suhu global rata-rata tertinggi, pemecah rekor di Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara. Pada tahun yang sama juga diikuti terjadinya banjir besar di Korea dan Bangladesh. Bangladesh, di awal 1991 mengalami banjir lagi disertai angin puyuh yang menimbulkan banyak korban jiwa. Survey WWF (2006) melaporkan bahwa lapisan es di pegunungan tertinggi dunia, Himalaya, telah mencair dengan cepat dan berpotensi menimbulkan kesulitan pasokan air. Himalaya memiliki cadangan air beku terbesar dunia setelah wilayah kutub. Lelehan es-nya mengaliri sungai-sungai besar Asia (Gangga, Indus, Brahmaputra, Mekong, Thanlwin, Yangtze, dan Sungai Kuning). Namun peningkatan suhu menjadikan lapisan es menurun cepat dengan laju 10-15 m/tahun, sehingga menimbulkan banjir. Setelah cadangan es habis, kekeringan pasti melanda.
Dari hampir 1.500 species flora/fauna yang diamati Prof.T.Root, dkk (Stanford Univ.) terdapat 1.200 sp. memperlihatkan perubahan tetap akibat berubahnya suhu. Banyak spesies saat ini termasuk ikan-ikan memperlihatkan kecenderungan bermigrasi dan bergerak ke arah utara bumi, ke tempat yang lebih dingin. Vegetasi tumbuhan diperkirakan berpindah 100-150 km ke arah kutub untuk beradaptasi dengan peningkatan suhu sebesar 1 derajat Celcius (Nature, 2003). Hal yang sama terjadi pada hutan mangrove. Mangrove yang peka selain terhadap perubahan salinitas air dan laju sedimentasi pasti tak dapat menghindar jika air laut naik. Selama masa perubahan iklim yang bertahap, seperti yang terjadi pada waktu lalu, kawanan hewan perumput bergerak mengikuti gerakan vegetasi diiringi oleh hewan karnivora yang memangsa mereka. Perubahan iklim yang cepat, tidak memberikan harapan bagi penyesuaian seperti ini. Tentunya organisme yang tak dapat beradaptasi dengan perubahan akan terisolasi dan punah. Pemanasan global dapat mereduksi keanekaragaman genetik dan ini berarti walaupun keanekaragaman spesies tinggi, namun karena kurang dalam jumlah maka akan lebih rentan dan terancam punah akibat penyakit serta rendahnya keanekaragaman genetik. Berdasarkan dari berbagai jurnal penelitian ilmiah terbaru, ternyata ada banyak sekali bukti yang mana pemanasan global mempengaruhi kehidupan flora/fauna termasuk manusia di dalamnya. Hal ini tidak akan pernah cukup diurai dalam tulisan ini, namun dipastikan bumi saat ini berjalan tidak alamiah lagi.
Sumber : Berbagai Sumber
Es Mencair, Kota di Alaska Banjir

Alaska - Bongkahan es di Sungai Yukon, Alaska, mulai mencair pada Rabu, 29 Mei 2013 dan memaksa warga untuk segera mengungsi. Pantauan udara melaporkan, bongkahan es telah patah dan tertahan di sungai sepanjang 30 mil (48 kilometer).
“Itu berarti es akan mencair dan membanjiri hingga kota Gelena yang terletak 20 km dari hulu dan mengancam memecah tanggul yang melindungi bandara dari banjir,” ujar Ed Plumb, dari Dinas Cuaca Nasional pada Daily Mail Kamis, 30 Mei 2013.
Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, tapi sebagian besar warga kehilangan rumah dan mereka terpaksa mengungsi. Kini, kota itu bak kota mati. Tak ada listrik, air bersih, dan jaringan komunikasi.
Menurut Kevin Ray, warga setempat, banjir ini bukanlah yang pertama bagi mereka. Namun, kali ini, air meningkat begitu cepat, sampai-sampai rumah panggung pun turut kebanjiran.
Bencana ini meninggalkan trauma yang mendalam. Kini, pemerintah setempat akan mengeluarkan status darurat bencana dan akan membangun kembali kota mati itu.
Bencana ini seolah menjadi teguran bagi manusia. Pemanasan global yang tak terbendung lagi memaksa es-es mencair dan membanjiri rumah warga. Es sepanjang 48 kilometer saja telah mampu menimbulkan bencana yang besar. Lantas, bagaimana jika es-es di kedua kutub mencair semua? Tentu tak ada yang bisa membayangkan kedahsyatannya.
Sumber : http://www.tempo.co/
Langganan:
Postingan (Atom)





















